6 Tips Hadapi Resign Tanpa Galau

6:51 PM

Posting kali ini bukan bermaksud untuk membandingkan ibu bekerja dan ibu rumah tangga yah. Nope! Wang saya juga 8 tahun kerja as corporate workers.. Tapi kali ini hanya ingin share beberapa tips yang sudah saya jalani sendiri untuk mengatasi kegalauan saat resign atau mau resign. Terutama untuk yang sudah ada niat untuk resign, semoga posting-an ini membantu!
 
Tetap bekerja atau resign biasanya sering menjadi one big question yang dihadapi oleh working moms. Saya sendiri setelah menimbang banyak hal, akhirnya memutuskan untuk resign. 
 
Dari hasil ngobrol  dan juga sempat merasakan sendiri kegalauan ini terjadi mayoritas karena takut BOSAN (red: karena terbiasa beraktifitas) , takut GAK BEBAS (red : krn terbiasa punya uang sendiri dan belanja tanpa perlu izin suami. hihi), takut DIOMONGIN (red: biasanya justru sama keluarga sendiri nih), dan takut KURANG uang (red: transisi dari double income menjadi single income family).
 
Oleh karena itu menurut saya RESIGN harus direncanakan dengan matang. Persiapan financial penting namun mental juga tidak kalah penting. Dengan mental yang siap menurut saya financial bisa mengikuti tapi tidak sebaliknya. Keputusan resign harusnya tujuannya agar kita lebih happy, jadi jangan sampai justru malah stress yah!
 
1.       TEMUKAN ALASAN YANG TEPAT
 
Ini penting sebagai jangkar ketika galau menghadapi. Selain itu mengevaluasi alasan untuk resign juga dapat membantu menjawab apakah keputusan resign ini adalah yang keputusan yang tepat atau tidak. Jangan sampai keputusan resign hanya karena emosi sesaat misalnya, karena konflik dengan teman kerja. Jika alasan sangat kuat, kita akan lebih susah untuk menyesalinya karena otomatis kita akan menganggap resign sebagai jalan keluar terbaik untuk masalah kita.
 
 
2.       KANTONGI RESTU KELUARGA
 
Percaya deh, dukungan keluarga penting. Restu suami itu pasti yang utama. Tapi.. dukungan ibu,bapak, kakak, adik dan mertua akan memudahkan proses ini. Seperti di keluarga saya yang cukup konvensional dan menganggap bekerja di perusahaan itu yang terbaik, keputusan resign saya  sempat menimbulkan kontra. Keinginan saya untuk memulai bisnis pun menimbulkan kekhawatiran. Kalau ini berlanjut, sudah dipastikan setelah resign hal ini bisa menjadi bibit stress. Apalagi ketika masalah datang, gak mau kan dengar.. “tuh kan dibilangin juga apaa tidak usah resign.. “
Saya sendiri mulai member info untuk resign jauuuuh jauhhh hari. Satu tahun sebelumnya! Ini penting agar mereka tahu bahwa keputusan resign bukan Karen emosi dan sudah melalui pertimbangan matang.

Bilangnya pun pelan-pelan, dan selalu saya sisipin di setiap ada kesempatan. Suami juga saya libatkan untuk berbicara kepada mertua.

Selain itu saya juga menunjukan persiapan untuk resign yang matang. Saya komunikasikan juga bahwa segalanya telah direncanakan baik seperti dana pendidikan, asuransi kesehatan, dan rencanan usaha saya. Alhamdulillah, akhirnya mereka justru mendukung rencana saya!
 
3.       RENCANAKAN POST RESIGN ACTIVITY
 
Setelah resign mau ngapain?  Mengurus anak FULL time? Nyambi dengan    onlineshop? Freelance ? semuanya sah! Yang penting coba direncanakan apa  yang akan dilakukan pasca resign. Membuat perkiraan aktifitas harian juga membantu. Kenapa? Karena untuk yang sudah biasa bekerja mungkin akan mengalami jat lag loh. 2 minggu pertama resign mungkin menyenangkan, tapi tanpa perencanaan yang jelas kamu bisa bosan setengah mati setelahnya.
Untuk yang mau memulai bisnis, coba rencanakan bisnis apa, milestone bisnis nya akan seperti apa, apa yang perlu disiapkan, dll. Untuk full time mom, nanti kira-kira dalam satu hari akan menghabiskan waktu untuk apa saja? Masak? Sensory Play? Antar les?
Coba bayangkan dan rencanankan yah! Semakin detail persiapannya semakin baik.
 
4.       COBA JALANI KEHIDUPAN SETELAH RESIGN
Nah, ini juga yang saya lakukan. Coba jalankan rencana pasca resign. Ini untuk memberikan bayangan kepada diri sendiri. Selain itu mental juga akan lebih siap karena kita sudah tahu kira-kira apa tantangannya nanti. Saya sendiri mencoba mulai bisnis sambil kerja, selain itu saya juga coba cuti khusus untuk mencoba rencana aktifitas yang saya buat pasca resign.  Hal ini sangat membantu untuk mengatasi kaget pasca resign!
 
5.       RENCANAKAN PENYUSUAIAN CASH FLOW
Setelah persiapan mental sudah disiapkan, persiapan financial juga harus direncanakan.
Terutama untuk yang banting setir seperti saya memulai usaha atau jadi full time mom ini sangat penting. Karena pasti ada masa transisi penyesuaian pemasukan keluarga. Saat seperti ini bisa menjadi berat namun bisa di minimalisir dengan membuat rencana penyesuaian cash flow pemasukan dan pengeluran keluarga pasca resign.
 
6.       SIAPKAN DANA CADANGAN
 Selain rencana cash flow, sebaiknya tetap siapkan dana cadangan untuk keadaan darurat.
Terutama misalnya untuk hal diluar kebutuhan keluarga, seperti ibu kita sakit, terkadang sungkan meminta kepada suami apalagi ketika bekerja kita memiliki kebebasan untuk menggunakan uang kita. Besarnya dana cadangan disesuaikan kebutuhan masing-masing, setidaknya 3x pengeluaran bulanan. Selain itu cek juga asuransi kesehatan terutama jika kesehatan tidak di cover dari pihak suami.
 
Oke itu dia 6 tips dari saya untuk mengatasi kegalauan dan stress pasca resign!
Semua berdasarkan pengalaman pribadi, semoga ada yang berguna yah ibu-ibu!
In the end, keputusan resign atau tetap bekerja.. semua ibu tetap keren dimata saya!
 

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images